LAPORAN PENDAHULUAN ( BBLR )

LAPORAN PENDAHULUAN ( BBLR )

2.1 DEFINISI

Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir).

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.

BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB 2500 gram/ lebih rendah (WHO 1961)

Ada dua macam BBLR yaitu :

  1. Prematuritas murni / Bayi yang kurang bulan ( KB / SMK ): bayi yang dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.
  2. Dismaturitas / Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)/Bayi kecil masa kehamilan ( KMK ) : bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari persentie ke-10 kurva pertumbuhan janin dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.. Sedangkan Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ).

Penggolongan derajat prematuritas bayi

  1. Bayi yang sangat prematur (extremly prematur)

a)      24 – 30 mg gestasi

b)      Masa gestasi 24-27 mg masih sukar hidup terutama dinegara yang blm maju.

c)      Masa gestasi 28-30 mg mgk dapat hidup dengan perawatan intensif yang memerlukan alat-alat canggih untuk mencapai hasil yang optimum

d)     BB 500-1400 gram

e)      0,8% seluruh kelahiran hidup

f)       Hampir seluruh kematian neonatal dan defisit neurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir

g)      Penampilan: kecil, tidak memiliki lemak, kulit sangat tipis

  1. Bayi dg derajat prematur sedang (moderatly prematur)
  1. Gestasi 31-36 mg
  2. Kesanggupan hidup jauh lebih baik dari yang pertama
  3. Gejala sisa yang dihadapi kemudian hari ringan bila pengelolaan bayi intensif
  4. BB >1500 gram – 2500 gram
  5. 6%-7% seluruh kelahiran hidup
  6. Penampilan: kulit tipis, lipatan pada kaki lebih sedikit, banyak rambut halus, genetalia kurang berkembang
  7. Masa gestasi 37mg
  8. Mempunyai sifat prematur dan matur
  9. Biasanya berat seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur
  10. Kadang timbul problem yang dialami seperti bayi prematur seperti sindroma gawat napas, hiperbilirubinemia, refleks isap lemah
  11. Perlu penanganan lebih seksama
  1. Borderline prematur

Prosentase Kematian

  1. Gestasi kurang dari 24 mg : umumnya meninggal
  2. Gestasi 27-28 minggu: survive 50%
  3. Gestasi 29 minggu: survive 80%
  4. Gestasi 30 minggu: survive 85%

2.2 ETIOLOGI

Penyebab bayi lahir premature :

a)   Faktor Ibu :

  1. Faktor penyakit (toksemia gravidarum, trauma fisik,DM,infeksi akut, psikologis dll)
  2. Umur ibu pada dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dan pada multigravida Jarak kelahian terlalu dekat
  3. Social ekonomi : Malnutrisi dan antenatal yang kurang

b)   Faktor janin

  1. Hydroamnion
  2. Kehamilan multiple/ganda

Penyebab bayi lahir dismature :

  1. Faktor ibu

a)   penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hipertensi

b)   Ibu DM berat

c)   Hipoksia ibu (penyakit paru kronis, hemoglobinopat, tinggal di pegunungan)

d)  Malnutrisi

e)   Bahan teratogonik ( alcohol, radiasi, obat )

  1. Faktor uterus dan plasentak: kelainan pembuluh darah, insersi tali pusat yang tidak normal, sebagian plasenta lepas, infark plasenta dll
  2. Faktor janin: kehamilan ganda, kelainan kromosom, infeksi dalam kandungan (TORCH)
  3. Faktor sosek

2.3 TANDA–TANDAKLINIS

Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :

a)      Prematuritas murni

  1. BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
  2. Masa gestasi < 37 minggu
  3. Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
  4. Lanugo banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
  5. Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
  6. Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
  7. Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
  8. Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
  9. Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah

10.  Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik

11.  Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna

b)      Dismaturitas

  1. Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
  2. Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
  3. Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
  4. Tali pusat berwarna kuning kehijauan

2.4 PROBLEMATIK BBLR

Dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomis maupun fisiologis maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut ini :

  1. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yag bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif,produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
  2. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan kekurangan surfactan(rasio lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah yang tulang iga yang mudah melengkung(pliable thorak)
  3. Penyakit gangguan pernafasan yang sering pada bayi BBLR adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumoni.
  4. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi, distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi lemak, laktosa,vitamin yang larut dalam lemakdan bebberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter kardio esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi asspirasi.
  5. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.
  6. Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, urea clearence yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan airtubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan asidosis metabolik.
  7. Perdarahan mudahbterjadi karena pembuluh darah yang rapuh(fragile), kekurangan faktor pembekuan seperti protrombine, faktor VII dan faktor christmas.
  8. Gangguan imunologok, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahya kadar Ig G gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi masih belum baik
  9. Perdarahan intraventrikuler, lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi BBLR sering menderita apnea,asfuksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Luasnya perdarahan intraventrikuler

10.  Retrolental Fibroplasia : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi(PaO2 lebih dari 115 mmHg : 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru kedaerah yang iskemi sehingga terjadi perdarahan, fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga bayi menjadi buta. Untuk menghindari retrolental fibroplasia maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak boleh lebih dati 40%. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter permenit.

2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a)      Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia

b)      Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan

c)      Titer Torch sesuai indikasi

d)     Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi

e)      Pemantauan elektrolit

f)       Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax )

2.6 PENATALAKSANAAN

a) Penanganan bayi

Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator

b) Pelestarian suhu tubuh

Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C.
Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal.

Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram

c) Inkubator

Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.

d) Pemberian oksigen

Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan

e) Pencegahan infeksi

Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit.

f) Pemberian makanan

Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.

2.7 PROGNOSIS

Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501- 2500 gram adalah 95 %, tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih mempunyai angka kematian yang tinggi. Kematian diduga karena displasia bronkhopulmonal, enterokolitis nekrotikans, atau infeksi sekunder.

BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2 tahun pertama akan mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati bayi cukup bulan dengan berat sesuai masa gestasi.  Pada BBLR , makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi, makin besar kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan neurologik.

2.8 MEMULANGKAN BAYI

Sebelum pulang bayi sudah harus mampu minum sendiri, baik dengan botol maupum putting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badan berkisar antara 10 – 30 gram / hari dan suhu tubuh tetap normal diruang biasa. Biasanya bayi dipulangkan dengan berat badan lebih dari 2000 gram dan semua masalah berat sudah teratasi.

2.9 PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

  1. A. PENGKAJIAN
    1. 1. Riwayat Maternal
      1. Umur ibu dalam resiko kehamilan ( < 16 thn atau > 35 thn)
      2. Kehamilan ganda ( gemeli)
      3. Status ekonomi rendah, malnutrisi dan ANC kurang
      4. Adanya riwayat kelahiran prematur sebelumnya
      5. Infeksi: TORCH, penyakit kelamin dll
      6. Kondisi kehamilan: toksemia gravidarum, KPD, plasenta previa dll
      7. Penggunaan Narkoba, alkohol, rokok
      8. 2. Riwayat Kelahiran
        1. Gestasi : 24- 37 minggu
        2. BB : < 2500 gram
        3. APGAR SKORE
          1. 3. Sistem kardiovaskuler
          1. HR : 120-160 x/menit
          2. Saat lahir mungkin terdapat murmur: indikasi adanya shunt ke kiri dan tekanan paru yang masih tinggi atau adanya atelektasis
          3. 4. Sistem gastrointestinal
            1. Abdomen menonjol
            2. Pengeluaran mekonium: 12-24 jam
            3. Refleks hisap lemah, koordinasi mengisap dan menelan lemah
            4. Anus: paten, jika tidak pertanda kelainan kongenital
            5. Berat badan kurang 2500(5lb 8 oz).
            6. 5. Sistem integumen
              1. Kulit: pucat, sianosis, ikterik, kutis marmorata atau kemerahan
              2. Kulit tipis, transparan, halus dan licin
              3. Verniks caseosa sedikit dengan lanugo banyak
              4. Terdapat edema umum atau lokal
              5. Kuku pendek
              6. Rambut sedikit dan halus
              7. Garis tangan sedikit dan halus
              8. 6. Sistem muskuloskeletal
                1. Tulang rawan telinga (Cartilago ear) belum berkembang, telinga halus dan lunak
                2. Tulang kepala dan tulang rusuk lunak
                3. Reflek kurang dan letargi
                4. 7. Neuroensori

Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Edema kelopak mata umum terjadi, mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi).

Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan, dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37.

  1. 8. Pernafasan

Skor apgar mungkin rendah. Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur; pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt).  Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi, menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS).

  1. 9. Keamanan

Suhu berfluktuasi dengan mudah. Menangis mungkin lemah.Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedoneum. Kulit kemerahan atau tembus pandang, warna mungkin merah. muda/kebiruan, akrosianosis, atau sianosis/pucat. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh.
Ekstremitas mungkin tampak edema. Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak. Kuku mungkin pendek.

  1. 10. Seksualitas

Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.

  1. B. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
  2. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler
  3. Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan
  4. Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur.
  5. Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  6. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan (imaturitas saluran cerna).
  7. Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler
  8. Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia
  9. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
  10. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.

10.  Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif

11.  Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan

  1. C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
No. Dx. Keperawatan Tujuan Perencanaan
1. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuro muscular Pola nafas efektif. Kriteria Hasil :

  • RR 30-60 x/mnt
  • Sianosis (-)
  • Sesak (-)
  • Ronchi (-)
  • Whezing (-)
  1. Observasi pola Nafas.
  2. Observasi frekuensi dan bunyi nafas
  3. Observasi adanya sianosis.
  4. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.
  5. Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.
  6. Beri O2 sesuai program dokter
  7. Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.
  8. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.
  9. Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.
2 Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan Pertukaran gas adekuat

Kriteria :

  • Tidak sianosis.
  • Analisa gas darah normal
  • Saturasi oksigen normal.
  1. Lakukan isap lendir kalau perlu
  2. Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
  3. Observasi warna kulit
  4. Ukur saturasi oksigen
  5. Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
  6. Lapor dokter apabila terdapat  tanda-tanda perburukan pernafasan
  7. Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
  8. Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan
3 Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur. Suhu tubuh kembali normal.Kriteria Hasil :

  • Suhu 36-37C.
  • Kulit hangat.
  • Sianosis (-)
  • Ekstremitas hangat
  1. Observasi tanda-tanda vital.
  2. Tempatkan bayi pada incubator.
  3. Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan.
  4. Monitor tanda-tanda Hipertermi.
  5. Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh.
  6. Ganti pakaian setiap basah.
  7. Observasi adanya sianosis.
4 Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ktidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Hidrasi baik

Kriteria:

  • Turgor kulit elastik
  • Tidak ada edema
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jm
  • Elektrolit darah dalam batas normal
  1. Observasi turgor kulit.
  2. Catat intake dan output
  3. Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit
  4. Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah
5. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi (Imaturitas saluran cerna) Nutrisi terpenuhi setelahKriteria hasil :

  • Reflek hisap dan menelan baik
  • Muntah (-)
  • Kembung (-)
  • BAB lancer
  • Berat badan meningkat 15 gr/hr
  • Turgor elastis.
  1. Observasi intake dan output.
  2. Observasi reflek hisap dan menelan.
  3. Beri minum sesuai program
  4. Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada.
  5. Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral.
  6. Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral
  7. Kaji kesiapan ibu untuk menyusu.
  8. Timbang BB setiap hari.
6

7

Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler

Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia

Perfusi jaringan baik

  • Tekanan darah normal
  • Pengisian kembali kapiler <2 detik
  • Akral hangat & tak sianosis
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jm
  • Kesadaran composmentis

Tidak ada injuri,Kriteria:

  • Kesadaran composmentis
  • Gerakan aktif dan terkoordinasi
  • Tidak ada kejang ataupun twitching
  • Tidak ada tangisan melengking
  • Hasil USG kepala dalam batas normal
  1. Ukur tekanan darah kalau perlu
  2. Observasi warna dan suhu kulit
  3. Observasi pengisian kembali kapiler
  4. Observasi adanya edema perifer
  5. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium
  6. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan
  1. Cegah terjadinya hipoksia
  2. Ukur saturasi oksigen
  3. Observasi kesadaran dan aktifitas bayi
  4. Observasi tangisan bayi
  5. Observasi adanya kejang
  6. Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi
  7. Ukur lingkar kepala kalau perlu
  8. Kolaborasi dalam pemeriksaan USG kepala
8. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi) Infeksi tidak terjadi.Kriteria Hasil :

  • Suhu 36-37C
  • Tidak ada tanda-tanda infeksi.
  • Leukosit 5.000-10.000
  1. Kaji tanda-tanda infeksi.
  2. Isolasi bayi dengan bayi lain.
  3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
  4. Gunakan masker setiap kontak dengan bayi.
  5. Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.
  6. Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril.
  7. Kolaborasi dengan dokter.
  8. Berikan antibiotic sesuai program.
9 Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobili.sasi. Gangguan integritas kulit tidak terjadi Kriteria hasil :

  • Suhu 36,5-37 C
  • Tidak ada lecet atau kemerahan pada kulit.
  • Tanda-tanda infeksi (-)
  1. Observasi vital sign.
  2. Observasi tekstur dan warna kulit.
  3. Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic.
  4. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
  5. Jaga kebersihan kulit bayi.
  6. Ganti pakaian setiap basah.
  7. Jaga kebersihan tempat tidur.
  8. Lakukan mobilisasi tiap 2 jam.
  9. Monitor suhu dalam incubator.
10. Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif Persepsi dan sensori baik

Kriteria :

  • Bayi berespon terhadap stimulus
  1. Membelai bayi sebelum malakukan tindakan
  2. Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut
  3. Memberikan rangsang cahaya pada mata
  4. Kurangi suara monitor jika memungkinkan
  5. Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot
11. Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan orang tua dan kondisi krisis. Cemas berkurang Kriteria hasil :

  • Orang tua tampak tenang
  • Orang tua tidak bertanya-tanya lagi.
  • Orang tua brpartisipasi dalam proses perawatan.
  1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua
  2. Beri penjelasan tentang keadaan bayinya.
  3. Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya.
  4. Berikan support dan reinforcement atas apa yang dapat dicapai oleh orang tua.
  5. Latih orang tua tentang cara-cara perawatan bayi dirumah sebelum bayi pulang.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A.H Markum. (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
  2. Persis Mary Hamilton. (1999). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta: EGC.
  3. Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.
  4. Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
  5. Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
  6. Berhman, Kliegman & Arvin. (1996). Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Alih Bahasa : A. Samik Wahab. Jilid 1. Jakarta : EGC.
  7. Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke dua.Bandung : FKU Padjadjaran.
  8. Irianto, Kus. Drs. 2004. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya.
  9. Laksman, Hendra, T. Dr. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambaran.

10.  Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta : EGC.

11.  Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.

12.  Prawirohardjo, Sarwono, DR. dr. SpOG 2005, ILMU KEBIDANAN. Jakarta YBP-SP

13.  Shelov, Steven P dan Hannemann, Robert E. 2004. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. The American Academy Of Pediatrics.Jakarta : ARCAN.

14.  Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2002. Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta : FKUI.

15.  Supartini, Yupi, S.Kep, MSc. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

16.  Tambayong, Jan. Dr. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

17.  http://www.Medicine and linux.com

18.  www. Pediatric.com

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: