LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP BPH

LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP(BPH)

BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI

  1. 1. Pengertian
  • BPH  adalah  pembesaran    progresif   dari  kelenjar  prostat  ( secara  umum  pada  pria  lebih  tua  dari  50  tahun  )  menyebabkan   berbagai   derajat  obstruksi  uretral   dan  pembatasan    aliran  urinarius   ( Marilynn,  E.D,  2000 : 671 ).
  • Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Kapita Selekta,2000).
  1. 2. Etiologi

Penyebab  yang  pasti  dari  terjadinya  BPH  sampai  sekarang  belum  diketahui.  Namun  yang  pasti  kelenjar  prostat  sangat  tergantung  pada  hormon  androgen.  Faktor  lain  yang  erat  kaitannya   dengan  BPH  adalah  proses  penuaan  Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :

1).       Dihydrotestosteron(DHT)

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen  menyebabkan  epitel  dan  stroma  dari  kelenjar  prostat  mengalami  hiperplasi .

2).       Perubahan  keseimbangan  hormon  estrogen  -  testoteron

Pada  proses  penuaan  pada  pria  terjadi  peningkatan  hormon  estrogen  dan  penurunan   testosteron  yang  mengakibatkan  hiperplasi  stroma.

3).       Interaksi  stroma  -  epitel

Peningkatan  epidermal  gorwth  factor  atau  fibroblast   growth    factor  dan  penurunan  transforming  growth  factor  beta  menyebabkan  hiperplasi  stroma  dan  epitel.

4).       Berkurangnya  sel  yang  mati

Estrogen  yang  meningkat  menyebabkan   peningkatan  lama  hidup  stroma  dan  epitel  dari  kelenjar  prostat.

5).       Teori  kebangkitan Kembali (reawakening) atau reinduksi dari kemampuan mesenkim sinus urogenital  untuk berproliferasi  dan membentuk jaringan prostat.

  1. 3. Patofisiologi

Peningkatan Sel Sterm            Peningkatan 5 Alfa reduktase     ProsesMenua                         Interaksi Sel Epitel dan Stroma                      Berkurangnya sel yang mati

Ketidakseimbangan hormon

(      Estrogen dan testoteron       )

Penyempitan Lumen Ureter Protatika

Menghambat Aliran Urina

Retensi Urina                                                                          Peningkata tekanan intra vesikal

Hidro Ureter                                                                                 Hiperirritable pada bladder

Hidronefritis                                                                 Peningkatan Kontraksi Otot detrusor dari buli-buli

Penurunanan                                                                   Hipertropi Otot detrusor,trabekulasi

Fungsi  ginjal

Terbentuknya Sekula-sekula dan difertikel buli-buli

Frekuensi                     Intermiten                   Disuria             Urgensi  Hesistensi        Terminal dribling

  1. 4. Anatomi Dan Fisiologi

Spincter externa mengelilingi urethra di bawah vesica urinaria pada wanita, tetapi pada laki-laki terdapat kelenjar prostat yang berada dibelakang spincter penutup urethra. Prostat mengekskresikan cairannya ke dalam urethra pada saat ejakulasi, cairan prostat ini memberi makanan kepada sperma. Cairan ini memasuki urethra pars prostatika dari vas deferens.

Prostat dilewati oleh :

  1. Ductus ejakulatorius, terdiri dari 2 buah berasal dari vesica seminalis bermuara ke urethra.
  2. Urethra itu sendiri, yang panjangnya 17 – 23 cm.

Secara otomatis besarnya prostat adalah sebagai berikut :

  1. Transversal : 1,5 inchi
  2. Vertical : 1,25 inchi
  3. Anterior Posterior : 0,75 inchi

Prostat terdiri dari 5 lobus yaitu :

  1. Dua lobus lateralis
  2. Satu lobus posterior
  3. Satu lobus anterior
  4. Satu lobus medial

Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari besar, letaknya di bawah kandung kemih. Normal beratnya prostat pada orang dewasa diperkirakan 20 gram.

Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat, yaitu

  1. Rectal grading

Recthal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong. Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dengan rectal toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dan rectum. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. Pembagian grade sebagai berikut :

  1. 0 – 1 cm……….: Grade 0
  2. 1 – 2 cm……….: Grade 1
  3. 2 – 3 cm……….: Grade 2
  4. 3 – 4 cm……….: Grade 3
  5. Lebih 4 cm…….: Grade 4

Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena benjolan masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal grading maka didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk menentukan macam tindakan operasi yang akan dilakukan. Bila kecil (grade 1), maka terapi yang baik adalah T.U.R (Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali (grade 3-4) dapat dilakukan prostatektomy terbuka secara trans vesical.

  1. Clinical grading dan

Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine. Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur disuruh kemih sampai selesai, kemudian dimasukkan catheter ke dalam kandung kemih untuk mengukur sisa urine.

  1. Sisa urine 0 cc……………….…… Normal
  2. Sisa urine 0 – 50 cc…………….… Grade 1
  3. Sisa urine 50 – 150 cc……………. Grade 2
  4. Sisa urine >150 cc………………… Grade 3
  5. Sama sekali tidak bisa kemih…… Grade 4
  6. Intra urethra grading.

Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra. Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah menjadi bidang dari urology yang spesifik.

Efek yang dapat terjadi akibat hypertropi prostat:

  1. Terhadap urethra

Bila lobus medius membesar, biasanya arah ke atas mengakibatkan urethra pars prostatika bertambah panjang, dan oleh karena fiksasi ductus ejaculatorius maka perpanjangan akan berputar dan mengakibatkan sumbatan.

  1. Terhadap vesica urinaria

Pada vesica urinaria akan didapatkan hypertropi otot sebagai akibat dari proses kompensasi, dimana muscle fibro menebal ini didapatkan bagian yang mengalami depresi (lekukan) yang disebut potensial divertikula.

Pada proses yang lebih lama akan terjadi dekompensasi dari pada otot-otot yang hypertropi dan akibatnya terjadi atonia (tidak ada kekuatan) dari pada otot-otot tersebut.

Kalau pembesaran terjadi pada medial lobus, ini akan membentuk suatu post prostatika pouch, ini adalah kantong yang terdapat pada kandung kemih dibelakang medial lobe.

Post prostatika adalah sebagai sumber dari terbentuknya residual urine (urine yang tersisa) dan pada post prostatika pouch ini juga selalu didapati adanya batu-batu di kandung kemih.

  1. Terhadap ureter dan ginjal

Kalau keadaan urethra vesica valve baik, maka tekanan ke ekstra vesikel tidak diteruskan ke atas, tetapi bila valve ini rusak maka tekanan diteruskan ke atas, akibatnya otot-otot calyces, pelvis, ureter sendiri mengalami hipertropy dan akan mengakibatkan hidronefrosis dan akibat lanjut uremia.

  1. Terhadap sex organ

Mula-mula libido meningkat, teatapi akhirnya libido menurun.

  1. 5. Gejala Benigne Prostat Hyperplasia

Berdasarkan gradenya, terbagi menjadi 4 grade yaitu :

  1. Pada grade 1 (congestic)
    1. Mula-mula pasien berbulan atau beberapa tahun susah kemih dan mulai mengedan.
    2. Kalau miksi merasa puas.
    3. Urine keluar menetes dan pancaran lemah.
    4. Nocturia
    5. Urine keluar malam hari lebih dari normal.
    6. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal.
    7. Pada cytoscopy kelihatan hyperemia dari orificium urethra interna. Lambat laun terjadi varices akhirnya bisa terjadi perdarahan (blooding)
  1. Pada grade 2 (residual)
    1. Bila miksi terasa panas.
    2. Dysuri nocturi bertambah berat.
    3. Tidak bisa buang air kecil (kemih tidak puas).
    4. Bisa terjadi infeksi karena sisa air kemih.
    5. Terjadi panas tinggi dan bisa menggigil.
    6. Nyeri pada daerah pinggang (menjalar ke ginjal).
    7. Pada grade 3 (retensi urine)
      1. Ischuria paradosal.
      2. Incontinensia paradosal.
    8. Pada grade 4
      1. Kandung kemih penuh.
      2. Penderita merasa kesakitan.
      3. Air kemih menetes secara periodik yang disebut over flow incontinensia.
      4. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada tumor, karena bendungan yang hebat.
      5. Dengan adanya infeksi penderita bisa menggigil dan panas tinggi sekitar 40-41°C.
      6. Selanjutnya penderita bisa koma.

Dari kapita selekta, 2000. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :

1. Gejala Obstruktif yaitu :

  1. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
  2. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
  3. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
  4. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
  5. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.

2. Gejala Iritasi yaitu :

  1. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
  2. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
  3. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.
  1. 6. Komplikasi
    1. Perdarahan
    2. Inkotinensia
    3. Batu kandung kemih
    4. Retensi urine
    5. Impotensi
    6. Epididimitis
    7. Haemorhoid, hernia, prolaps rectum akibat mengedan
    8. Infeksi saluran kemih disebabkan karena catheterisasi
    9. Hydronefrosis

Hal-hal yang harus dilakukan pada pasien setelah pulang dari rumah sakit adalah ;

  1. Latihan berat, mengangkat berat dan sexual intercourse dihindari selama 3 minggu setelah dirumah.
  2. Tidak boleh membawa kendaraan.
  3. Mengedan pada saat defekasi harus dihindari, faeces harus lembek kalau perlu pemberian obat untuk melembekkan faeces.
  4. Menganjurkan banyak minum untuk mencegah statis dan infeksi dan membuat faeces lembek.
  1. 7. Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan  Laboratorium
  • Pemeriksaan  darah  lengkap,  faal  ginjal,  serum  elektrolit  dan  kadar  gula  digunakan  untuk  memperoleh  data  dasar  keadaan  umum  klien.
  • Pemeriksaan  urin  lengkap  dan  kultur.
  • PSA  (Prostatik  Spesific  Antigen)  penting diperiksa  sebagai  kewaspadaan  adanya  keganasan.
  1. Pemeriksaan  Uroflowmetri

Salah  satu  gejala  dari  BPH  adalah  melemahnya  pancaran  urin.  Secara  obyektif  pancaran  urin  dapat  diperiksa  dengan  uroflowmeter  dengan  penilaian :

  • Flow  rate  maksimal  >  15 ml / dtk    =  non  obstruktif.
  • Flow  rate  maksimal 10 – 15  ml / dtk =  border  line.
  • Flow  rate  maksimal  <  10 ml / dtk    =  obstruktif.
  1. Pemeriksaan  Imaging  dan  Rontgenologik
  • BOF  (Buik  Overzich ) :Untuk  melihat  adanya  batu  dan  metastase  pada  tulang.
  • USG  (Ultrasonografi), digunakan  untuk  memeriksa  konsistensi,  volume  dan    besar  prostat  juga  keadaan  buli – buli  termasuk  residual  urin.  Pemeriksaan  dapat  dilakukan  secara  transrektal,  transuretral  dan  supra  pubik.
  • IVP  (Pyelografi  Intravena)

Digunakan  untuk  melihat  fungsi  exkresi  ginjal  dan  adanya  hidronefrosis.

  • Pemeriksaan  Panendoskop

Untuk    mengetahui   keadaan  uretra  dan  buli – buli.

  1. Pemeriksaan CT- Scan dan MRI

Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran adanya pembesaran prostat, sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memberikan gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada berbagai bidang irisan, namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal biayanya.

  1. Pemeriksaan sistografi

Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. pemeriksaan ini dapat memberi gambaran kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan prostat ke dalam urethra.

  1. 8. Diagnosa banding

Oleh karena adanya proses miksi tergantung pada kekuatan kontraksi detrusor, elastisitas leher kandung kemih dengan tonus ototnya dan resistensi urethra yang merupakan faktor dalam kesulitan miksi. Kelemahan detrusor disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik) misalnya : Lesi medulla spinalis, penggunaan obat penenang. Kekakuan leher vesica disebabkan oleh proses fibrosis, sedangkan resistensi urethra disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau ganas, tumor di leher kandung kemih, batu di urethra atau striktur urethra.

  1. 9. Penatalaksanaan

Modalitas  terapi  BPH  adalah :

1).       Observasi

Yaitu  pengawasan  berkala  pada  klien  setiap  3 – 6   bulan  kemudian  setiap  tahun  tergantung  keadaan  klien

2).       Medikamentosa

Terapi  ini  diindikasikan  pada  BPH  dengan  keluhan  ringan,  sedang,  dan  berat  tanpa  disertai  penyulit. Obat  yang  digunakan    berasal    dari:   phitoterapi   (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens,  dll),  gelombang  alfa  blocker  dan  golongan   supresor   androgen.

3).       Pembedahan

Indikasi  pembedahan  pada  BPH  adalah :

a).    Klien  yang  mengalami  retensi  urin  akut  atau  pernah  retensi  urin  akut.

b).    Klien  dengan  residual  urin  >  100  ml.

c).    Klien  dengan  penyulit.

d).   Terapi  medikamentosa  tidak  berhasil.

e).    Flowmetri  menunjukkan  pola  obstruktif.

Pembedahan  dapat  dilakukan  dengan :

a).    TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat ® 90 – 95  % )

Dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus medial yang langsung mengelilingi urethra. Jaringan yang direseksi hanya sedikit sehingga tidak terjadi perdarahan dan waktu pembedahan tidak terlalu lama. Rectoscope disambungkan dengan arus listrik lalu di masukkan ke dalam urethra.Kandung kemih di bilas terus menerus selama prosedur berjalan.Pasien mendapat alat untuk masa terhadap shock listrik dengan lempeng logam yang di beri pelumas di tempatkan pada bawah paha.Kepingan jaringan yang halus di buang dengan irisan dan tempat-tempat perdarahan di tutup dengan cauter.

Setelah TURP di pasang catheter Foley tiga saluran yang di lengkapi balon 30 ml.Setelah balon catheter di kembangkan, catheter di tarik ke bawah sehingga balon berada pada fosa prostat yang bekerja sebagai hemostat.Ukuran catheter yang besar di pasang untuk memperlancar pengeluaran gumpalan darah dari kandung kemih.

Kandung kemih diirigasi terus dengan alat tetesan tiga jalur dengan garam fisiologisatau larutan lain yang di pakai oleh ahli bedah.Tujuan dari irigasi konstan ialah untuk membebaskan kandung kemih dari ekuan darah yang menyumbat aliran kemih.Irigasi kandung kemih yang konstan di hentikan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan dari kandung kemih.Kemudian catheter bisa dibilas biasa tiap 4 jam sekali sampai catheter di angkat biasanya 3 sampai 5 hari setelah operasi.Setelah catheter di angkat pasien harus mengukur jumlah urine dan waktu tiap kali berkemih.

b).    Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy

Pada prostatectomy retropubic dibuat insisi pada abdominal bawah tapi kandung kemih tidak dibuka.

c).    Perianal Prostatectomy

Dilakukan pada dugaan kanker prostat, insisi dibuat diantara scrotum dan rectum.

d).   Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

Metode operasi terbuka, reseksi supra pubic kelenjar prostat diangkat dari urethra lewat kandung kemih.

4).       Alternatif  lain  (misalnya:  Kriyoterapi,  Hipertermia,  Termoterapi,  Terapi  Ultrasonik.

10. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan pasien dengan hipertropi prostat melalui pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

  1. Pengkajian Keperawatan
  1. Anamnesa

Kumpulan  gejala  pada  BPH  dikenal  dengan  LUTS  (Lower  Urinary  Tract  Symptoms)  antara  lain:

  1. Nyeri pada daerah tindakan operasi.
  2. Pusing.
  3. Perubahan frekuensi berkemih.
  4. Urgensi.
  5. Dysuria
  6. Flatus negatif.
  7. Luka tindakan operasi pada daerah prostat.
  8. Retensi, kandung kemih penuh.
  9. Inkontinensia
  10. Bibir kering.
  11. Puasa.
  12. Bising usus negatif.
  13. Ekspresi wajah meringis.
  14. Pemasangan catheter tetap.
  15. Gelisah.
  16. Informasi kurang.
  17. Urine berwarna kemerahan.
  1. Pemeriksaan  Fisik
  • Dilakukan  dengan  pemeriksaan  tekanan  darah,  nadi  dan  suhu.  Nadi  dapat  meningkat  pada  keadaan  kesakitan  pada  retensi  urin  akut,  dehidrasi  sampai  syok  pada  retensi  urin  serta  urosepsis  sampai  syok – septik.
  • Pemeriksaan  abdomen  dilakukan  dengan  tehnik  bimanual  untuk  mengetahui  adanya  hidronefrosis,  dan  pyelonefrosis.  Pada  daerah  supra  simfiser  pada  keadaan  retensi  akan  menonjol.  Saat  palpasi  terasa  adanya  ballotemen  dan  klien  akan  terasa  ingin  miksi. Perkusi  dilakukan  untuk  mengetahui  ada  tidaknya  residual  urin.
  • Penis  dan  uretra  untuk  mendeteksi  kemungkinan  stenose  meatus,  striktur  uretra,  batu  uretra,  karsinoma  maupun  fimosis.
  • Pemeriksaan  skrotum  untuk  menentukan  adanya  epididimitis
  • Rectal  touch / pemeriksaan  colok  dubur  bertujuan  untuk  menentukan  konsistensi  sistim  persarafan  unit  vesiko  uretra  dan  besarnya  prostat.  Dengan  rectal  toucher  dapat  diketahui  derajat  dari  BPH,  yaitu :

a).    Derajat  I   =  beratnya  ±  20 gram.

b).    Derajat  II  =  beratnya  antara  20 – 40  gram.

c).    Derajat  III =  beratnya  > 40  gram.

  1. Diagnosa keperawatan.

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah     sebagai  berikut  :

  1. Pre Operasi :
    1. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.
    2. Nyeri  ( akut )  berhubungan  dengan  iritasi  mukosa  buli –   buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.
    3. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan  pasca obstruksi diuresis..
    4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah
    5. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi
    6. Post Operasi :
      1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P
      2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
      3. Resiko tinggi  cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan
      4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.
      5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
      6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan
  1. Intervensi

Pre Operasi

1)   Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat, ditandai dengan :

  1. Perubahan frekuensi berkemih.
  2. Urgensi.
  3. Dysuria.
  4. Pemasangan catheter tetap.
  5. Urine berwarna kemerahan.

Tujuan : Klien mengatakan tidak ada keluhan, dengan kriteria :

  1. Catheter tetap paten pada tempatntya.
  2. Tidak ada sumbatan aliran darah melalui catheter.
  3. Berkemih tanpa aliran berlebihan.
  4. Tidak terjadi retensi pada saat irigasi.

Rencana tindakan dan rasional

1)      Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.

R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih

2)      Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina

R /  Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi

3)      Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih

R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam  saluran perkemihan  yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal

4)      Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung.

R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal ,kandung kemih dari pertumbuhan bakteri

5)      Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik)

R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan

2)   Nyeri  ( akut )  berhubungan  dengan  iritasi  mukosa  buli –   buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.

Tujuan : Nyeri  hilang  /  terkontrol.

Kritera  hasil :

Klien  melaporkan  nyeri  hilang  /  terkontrol,  menunjukkan  ketrampilan  relaksasi  dan   aktivitas  terapeutik  sesuai  indikasi  untuk  situasi  individu.  Tampak rileks,  tidur  /  istirahat  dengan  tepat.

Rencana tindakan  dan  rasional

  1. Kaji nyeri,  perhatikan  lokasi,  intensitas  ( skala  0 – 10 ).

R / Nyeri  tajam,  intermitten  dengan  dorongan  berkemih  /  masase  urin  sekitar  kateter  menunjukkan  spasme  buli-buli,  yang  cenderung  lebih berat  pada  pendekatan  TURP  ( biasanya  menurun  dalam  48 jam ).

  1. Pertahankan patensi  kateter  dan  sistem  drainase.  Pertahankan   selang  bebas  dari  lekukan  dan  bekuan.

R/ Mempertahankan  fungsi  kateter  dan  drainase  sistem,  menurunkan  resiko  distensi  /  spasme  buli – buli.

  1. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan

R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.

  1. Berikan  tindakan  kenyamanan  ( sentuhan  terapeutik,      pengubahan  posisi,  pijatan  punggung )  dan aktivitas  terapeutik.

R /   Menurunkan  tegangan  otot,  memfokusksn  kembali  perhatian dan  dapat  meningkatkan  kemampuan  koping.

  1. Berikan  rendam  duduk  atau  lampu  penghangat  bila  diindikasikan.

R/ Meningkatkan   perfusi  jaringan  dan  perbaikan  edema  serta   meningkatkan  penyembuhan         ( pendekatan  perineal ).

  1. Kolaborasi  dalam pemberian  antispasmodik

R / Menghilangkan  spasme

3)   Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis.

Tujuan : Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.

Kriteria hasil : Mempertahankan  hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda  vital  stabil,  nadi  perifer  teraba,  pengisian perifer baik,  membran   mukosa  lembab  dan   keluaran  urin  tepat.

Rencana tindakan dan rasional

a).    Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/.

R/  Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan  jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal.

b).    Pantau  masukan  dan  haluaran  cairan.

R/  Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.

c).      Awasi  tanda-tanda  vital,  perhatikan  peningkatan  nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,

R/  Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik

d).     Tingkatkan tirah baring  dengan kepala lebih tinggi

R/  Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.

e).      Kolaborasi  dalam  memantau  pemeriksaan  laboratorium  sesuai  indikasi,  contoh:

Hb / Ht,  jumlah  sel  darah  merah. Pemeriksaan  koagulasi,  jumlah  trombosit

R/           Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan  penggantian. Serta dapat  mengindikasikan  terjadinya  komplikasi misalnya  penurunan  faktor  pembekuan  darah,

4)   Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah.

Tujuan : Pasien tampak rileks.

Kriteria hasil

Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.

Rencana  tindakan  dan  rasional

a). Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya

R/   Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu

b). Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.

R /  Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan.

c). Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.

R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah

5)   Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya.

Kriteria  hasil

Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu, berpartisipasi dalam program pengobatan.

Rencana   tindakan   dan   rasional

  1. Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian.

R /  Membantu pasien dalam mengalami perasaan.

  1. Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien

R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.

Post operasi

1)   Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P

Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria hasil :

  1. Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
  2. Ekspresi wajah klien tenang.
  3. Klien akan menunjukkan ketrampilan  relaksasi.
  4. Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.
  5. Tanda – tanda vital dalam batas normal.

Rencana tindakan :

  1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.

R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.

  1. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.

R/ Menentukan terdapatnya spasmus  sehingga obat – obatan bisa   diberikan

  1. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.

R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.

  1. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.

R/ Mengurang kemungkinan spasmus.

  1. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.

R / Mengurangi tekanan pada luka insisi

  1. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.

R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

  1. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.

R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.

  1. Observasi tanda – tanda vital

R/  Mengetahui perkembangan lebih lanjut.

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik )

R / Menghilangkan nyeri dan mencegah  spasmus kandung kemih.

2)   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .

Kriteria hasil:

  1. Klien tidak mengalami infeksi.
  2. Dapat mencapai waktu penyembuhan.
  3. Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.

Rencana tindakan:

  1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril.

R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi

  1. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.

R/ . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal.

  1. Pertahankan posisi urobag dibawah.

R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.

  1. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam.

R/ Mencegah sebelum terjadi shock.

  1. Observasi urine: warna, jumlah, bau.

R/ Mengidentifikasi adanya infeksi.

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.

R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan.

3)   Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan .

Tujuan: Tidak terjadi perdarahan.

Kriteria hasil:

  1. Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan .
  2. Tanda – tanda vital dalam batas normal .
  3. Urine lancar lewat kateter .

Rencana tindakan:

  1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan .

R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui  tanda – tanda perdarahan

  1. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter

R/  Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih

  1. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk   memudahkan defekasi .

R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan .

  1. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang – kurangnya satu minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat .

  1. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi  dilepas .

R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan .

  1. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan  warna urine

R/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen .

4)   Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.

Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan

Kriteria hasil:

  1. Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .
  2. Klien menyatakan pemahaman situasi individual .
  3. Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .
  4. Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.

Rencana tindakan :

  1. Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual .

R/ Untuk mengetahui masalah klien .

  1. Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan  kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)

R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual

  1. Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .

R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan

  1. Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .

R / Untuk mengklarifikasi  kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik.

5)   Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi

Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .

Kriteria hasil:

  1. Klien akan melakukan perubahan perilaku.
  2. Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
  3. Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .

Rencana tindakan:

  1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .

R/ Dapat menimbulkan perdarahan .

  1. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6  minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.

R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB

  1. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.

R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .

  1. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.

R/. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .

  1. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .

R/ Untuk membantu proses penyembuhan .

6)   Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan

Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.

Kriteria hasil:

  1. Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
  2. Klien mengungkapan sudah bisa tidur .
  3. Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .

Rencana tindakan:

  1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.

R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .

  1. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .

R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat

  1. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.

R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).

R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .

  1. Implementasi

Pada langkah ini, perawat memberikan asuhan keperawatan, yang pelaksanaannya berdasarkan rencana keperawatan yang telah disesuaikan pada langkah sebelumnya (intervensi).

  1. Evaluasi Keperawatan.

Asuhan keperawatan dalam bentuk perubahan prilaku pasien merupakan focus dari evaluasi tujuan.

DAFTAR  PUSTAKA

  1. Doenges, M.E., Marry, F..M  and  Alice, C.G., 2000. Rencana  Asuhan  Keperawatan :  Pedoman  Untuk  Perencanaan  Dan  Pendokumentasian  Perawatan  Pasien. Jakarta, Penerbit  Buku  Kedokteran  EGC.
  2. Long, B.C., 1996.  Perawatan  Medikal  Bedah : Suatu  Pendekatan  Proses  Keperawatan. Jakarta,  Penerbit  Buku  Kedokteran  EGC.
  3. Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya
  4. Basuki B Purnomo, 2000, Dasar-Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KTD), Jakarta.
  5. Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Editor, Irawati. S, Edisi : 9, EGC ; Jakarta.
  6. Kumpulan Kuliah, 2010, Modul Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan, Cirebon.
  7. Schwartz, dkk, 2000, Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom Shires dkk, EGC ; Jakarta.
  8. Jong, Wim de, dan Syamsuhidayat R, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor : R. Syamsuhidajat, Wim De Jong, Edisi revisi : EGC ; Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN ( BBLR )

LAPORAN PENDAHULUAN ( BBLR )

2.1 DEFINISI

Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir).

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.

BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB 2500 gram/ lebih rendah (WHO 1961)

Ada dua macam BBLR yaitu :

  1. Prematuritas murni / Bayi yang kurang bulan ( KB / SMK ): bayi yang dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.
  2. Dismaturitas / Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)/Bayi kecil masa kehamilan ( KMK ) : bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari persentie ke-10 kurva pertumbuhan janin dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.. Sedangkan Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ).

Penggolongan derajat prematuritas bayi

  1. Bayi yang sangat prematur (extremly prematur)

a)      24 – 30 mg gestasi

b)      Masa gestasi 24-27 mg masih sukar hidup terutama dinegara yang blm maju.

c)      Masa gestasi 28-30 mg mgk dapat hidup dengan perawatan intensif yang memerlukan alat-alat canggih untuk mencapai hasil yang optimum

d)     BB 500-1400 gram

e)      0,8% seluruh kelahiran hidup

f)       Hampir seluruh kematian neonatal dan defisit neurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir

g)      Penampilan: kecil, tidak memiliki lemak, kulit sangat tipis

  1. Bayi dg derajat prematur sedang (moderatly prematur)
  1. Gestasi 31-36 mg
  2. Kesanggupan hidup jauh lebih baik dari yang pertama
  3. Gejala sisa yang dihadapi kemudian hari ringan bila pengelolaan bayi intensif
  4. BB >1500 gram – 2500 gram
  5. 6%-7% seluruh kelahiran hidup
  6. Penampilan: kulit tipis, lipatan pada kaki lebih sedikit, banyak rambut halus, genetalia kurang berkembang
  7. Masa gestasi 37mg
  8. Mempunyai sifat prematur dan matur
  9. Biasanya berat seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur
  10. Kadang timbul problem yang dialami seperti bayi prematur seperti sindroma gawat napas, hiperbilirubinemia, refleks isap lemah
  11. Perlu penanganan lebih seksama
  1. Borderline prematur

Prosentase Kematian

  1. Gestasi kurang dari 24 mg : umumnya meninggal
  2. Gestasi 27-28 minggu: survive 50%
  3. Gestasi 29 minggu: survive 80%
  4. Gestasi 30 minggu: survive 85%

2.2 ETIOLOGI

Penyebab bayi lahir premature :

a)   Faktor Ibu :

  1. Faktor penyakit (toksemia gravidarum, trauma fisik,DM,infeksi akut, psikologis dll)
  2. Umur ibu pada dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dan pada multigravida Jarak kelahian terlalu dekat
  3. Social ekonomi : Malnutrisi dan antenatal yang kurang

b)   Faktor janin

  1. Hydroamnion
  2. Kehamilan multiple/ganda

Penyebab bayi lahir dismature :

  1. Faktor ibu

a)   penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hipertensi

b)   Ibu DM berat

c)   Hipoksia ibu (penyakit paru kronis, hemoglobinopat, tinggal di pegunungan)

d)  Malnutrisi

e)   Bahan teratogonik ( alcohol, radiasi, obat )

  1. Faktor uterus dan plasentak: kelainan pembuluh darah, insersi tali pusat yang tidak normal, sebagian plasenta lepas, infark plasenta dll
  2. Faktor janin: kehamilan ganda, kelainan kromosom, infeksi dalam kandungan (TORCH)
  3. Faktor sosek

2.3 TANDA–TANDAKLINIS

Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :

a)      Prematuritas murni

  1. BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
  2. Masa gestasi < 37 minggu
  3. Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
  4. Lanugo banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
  5. Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
  6. Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
  7. Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
  8. Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
  9. Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah

10.  Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik

11.  Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna

b)      Dismaturitas

  1. Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
  2. Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
  3. Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
  4. Tali pusat berwarna kuning kehijauan

2.4 PROBLEMATIK BBLR

Dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomis maupun fisiologis maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut ini :

  1. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yag bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit, permukaan tubuh relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan, otot yang tidak aktif,produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
  2. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan kekurangan surfactan(rasio lesitin/sfingomielin kurang dari 2), pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah yang tulang iga yang mudah melengkung(pliable thorak)
  3. Penyakit gangguan pernafasan yang sering pada bayi BBLR adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumoni.
  4. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi, distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang, volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi lemak, laktosa,vitamin yang larut dalam lemakdan bebberapa mineral tertentu berkurang. Kerja dari sfingter kardio esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi asspirasi.
  5. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.
  6. Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang sedikit, urea clearence yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan airtubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan asidosis metabolik.
  7. Perdarahan mudahbterjadi karena pembuluh darah yang rapuh(fragile), kekurangan faktor pembekuan seperti protrombine, faktor VII dan faktor christmas.
  8. Gangguan imunologok, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahya kadar Ig G gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi masih belum baik
  9. Perdarahan intraventrikuler, lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi BBLR sering menderita apnea,asfuksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Luasnya perdarahan intraventrikuler

10.  Retrolental Fibroplasia : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi(PaO2 lebih dari 115 mmHg : 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru kedaerah yang iskemi sehingga terjadi perdarahan, fibrosis, distorsi dan parut retina sehingga bayi menjadi buta. Untuk menghindari retrolental fibroplasia maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak boleh lebih dati 40%. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter permenit.

2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a)      Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia

b)      Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan

c)      Titer Torch sesuai indikasi

d)     Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi

e)      Pemantauan elektrolit

f)       Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax )

2.6 PENATALAKSANAAN

a) Penanganan bayi

Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator

b) Pelestarian suhu tubuh

Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C.
Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal.

Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram

c) Inkubator

Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.

d) Pemberian oksigen

Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan

e) Pencegahan infeksi

Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit.

f) Pemberian makanan

Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.

2.7 PROGNOSIS

Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501- 2500 gram adalah 95 %, tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih mempunyai angka kematian yang tinggi. Kematian diduga karena displasia bronkhopulmonal, enterokolitis nekrotikans, atau infeksi sekunder.

BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2 tahun pertama akan mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati bayi cukup bulan dengan berat sesuai masa gestasi.  Pada BBLR , makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi, makin besar kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan neurologik.

2.8 MEMULANGKAN BAYI

Sebelum pulang bayi sudah harus mampu minum sendiri, baik dengan botol maupum putting susu ibu. Selain itu kenaikan berat badan berkisar antara 10 – 30 gram / hari dan suhu tubuh tetap normal diruang biasa. Biasanya bayi dipulangkan dengan berat badan lebih dari 2000 gram dan semua masalah berat sudah teratasi.

2.9 PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

  1. A. PENGKAJIAN
    1. 1. Riwayat Maternal
      1. Umur ibu dalam resiko kehamilan ( < 16 thn atau > 35 thn)
      2. Kehamilan ganda ( gemeli)
      3. Status ekonomi rendah, malnutrisi dan ANC kurang
      4. Adanya riwayat kelahiran prematur sebelumnya
      5. Infeksi: TORCH, penyakit kelamin dll
      6. Kondisi kehamilan: toksemia gravidarum, KPD, plasenta previa dll
      7. Penggunaan Narkoba, alkohol, rokok
      8. 2. Riwayat Kelahiran
        1. Gestasi : 24- 37 minggu
        2. BB : < 2500 gram
        3. APGAR SKORE
          1. 3. Sistem kardiovaskuler
          1. HR : 120-160 x/menit
          2. Saat lahir mungkin terdapat murmur: indikasi adanya shunt ke kiri dan tekanan paru yang masih tinggi atau adanya atelektasis
          3. 4. Sistem gastrointestinal
            1. Abdomen menonjol
            2. Pengeluaran mekonium: 12-24 jam
            3. Refleks hisap lemah, koordinasi mengisap dan menelan lemah
            4. Anus: paten, jika tidak pertanda kelainan kongenital
            5. Berat badan kurang 2500(5lb 8 oz).
            6. 5. Sistem integumen
              1. Kulit: pucat, sianosis, ikterik, kutis marmorata atau kemerahan
              2. Kulit tipis, transparan, halus dan licin
              3. Verniks caseosa sedikit dengan lanugo banyak
              4. Terdapat edema umum atau lokal
              5. Kuku pendek
              6. Rambut sedikit dan halus
              7. Garis tangan sedikit dan halus
              8. 6. Sistem muskuloskeletal
                1. Tulang rawan telinga (Cartilago ear) belum berkembang, telinga halus dan lunak
                2. Tulang kepala dan tulang rusuk lunak
                3. Reflek kurang dan letargi
                4. 7. Neuroensori

Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Edema kelopak mata umum terjadi, mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi).

Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan, dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37.

  1. 8. Pernafasan

Skor apgar mungkin rendah. Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur; pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt).  Mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan substernal, atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi, menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS).

  1. 9. Keamanan

Suhu berfluktuasi dengan mudah. Menangis mungkin lemah.Wajah mungkin memar, mungkin ada kaput suksedoneum. Kulit kemerahan atau tembus pandang, warna mungkin merah. muda/kebiruan, akrosianosis, atau sianosis/pucat. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh.
Ekstremitas mungkin tampak edema. Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak. Kuku mungkin pendek.

  1. 10. Seksualitas

Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora, dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun, rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.

  1. B. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
  2. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler
  3. Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan
  4. Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur.
  5. Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  6. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan (imaturitas saluran cerna).
  7. Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler
  8. Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia
  9. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
  10. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.

10.  Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif

11.  Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan

  1. C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
No. Dx. Keperawatan Tujuan Perencanaan
1. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuro muscular Pola nafas efektif. Kriteria Hasil :

  • RR 30-60 x/mnt
  • Sianosis (-)
  • Sesak (-)
  • Ronchi (-)
  • Whezing (-)
  1. Observasi pola Nafas.
  2. Observasi frekuensi dan bunyi nafas
  3. Observasi adanya sianosis.
  4. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.
  5. Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.
  6. Beri O2 sesuai program dokter
  7. Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.
  8. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.
  9. Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.
2 Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan Pertukaran gas adekuat

Kriteria :

  • Tidak sianosis.
  • Analisa gas darah normal
  • Saturasi oksigen normal.
  1. Lakukan isap lendir kalau perlu
  2. Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
  3. Observasi warna kulit
  4. Ukur saturasi oksigen
  5. Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
  6. Lapor dokter apabila terdapat  tanda-tanda perburukan pernafasan
  7. Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
  8. Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan
3 Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur. Suhu tubuh kembali normal.Kriteria Hasil :

  • Suhu 36-37C.
  • Kulit hangat.
  • Sianosis (-)
  • Ekstremitas hangat
  1. Observasi tanda-tanda vital.
  2. Tempatkan bayi pada incubator.
  3. Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan.
  4. Monitor tanda-tanda Hipertermi.
  5. Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh.
  6. Ganti pakaian setiap basah.
  7. Observasi adanya sianosis.
4 Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ktidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Hidrasi baik

Kriteria:

  • Turgor kulit elastik
  • Tidak ada edema
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jm
  • Elektrolit darah dalam batas normal
  1. Observasi turgor kulit.
  2. Catat intake dan output
  3. Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit
  4. Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah
5. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi (Imaturitas saluran cerna) Nutrisi terpenuhi setelahKriteria hasil :

  • Reflek hisap dan menelan baik
  • Muntah (-)
  • Kembung (-)
  • BAB lancer
  • Berat badan meningkat 15 gr/hr
  • Turgor elastis.
  1. Observasi intake dan output.
  2. Observasi reflek hisap dan menelan.
  3. Beri minum sesuai program
  4. Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada.
  5. Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral.
  6. Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral
  7. Kaji kesiapan ibu untuk menyusu.
  8. Timbang BB setiap hari.
6

7

Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler

Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia

Perfusi jaringan baik

  • Tekanan darah normal
  • Pengisian kembali kapiler <2 detik
  • Akral hangat & tak sianosis
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jm
  • Kesadaran composmentis

Tidak ada injuri,Kriteria:

  • Kesadaran composmentis
  • Gerakan aktif dan terkoordinasi
  • Tidak ada kejang ataupun twitching
  • Tidak ada tangisan melengking
  • Hasil USG kepala dalam batas normal
  1. Ukur tekanan darah kalau perlu
  2. Observasi warna dan suhu kulit
  3. Observasi pengisian kembali kapiler
  4. Observasi adanya edema perifer
  5. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium
  6. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan
  1. Cegah terjadinya hipoksia
  2. Ukur saturasi oksigen
  3. Observasi kesadaran dan aktifitas bayi
  4. Observasi tangisan bayi
  5. Observasi adanya kejang
  6. Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi
  7. Ukur lingkar kepala kalau perlu
  8. Kolaborasi dalam pemeriksaan USG kepala
8. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi) Infeksi tidak terjadi.Kriteria Hasil :

  • Suhu 36-37C
  • Tidak ada tanda-tanda infeksi.
  • Leukosit 5.000-10.000
  1. Kaji tanda-tanda infeksi.
  2. Isolasi bayi dengan bayi lain.
  3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
  4. Gunakan masker setiap kontak dengan bayi.
  5. Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.
  6. Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril.
  7. Kolaborasi dengan dokter.
  8. Berikan antibiotic sesuai program.
9 Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobili.sasi. Gangguan integritas kulit tidak terjadi Kriteria hasil :

  • Suhu 36,5-37 C
  • Tidak ada lecet atau kemerahan pada kulit.
  • Tanda-tanda infeksi (-)
  1. Observasi vital sign.
  2. Observasi tekstur dan warna kulit.
  3. Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic.
  4. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
  5. Jaga kebersihan kulit bayi.
  6. Ganti pakaian setiap basah.
  7. Jaga kebersihan tempat tidur.
  8. Lakukan mobilisasi tiap 2 jam.
  9. Monitor suhu dalam incubator.
10. Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif Persepsi dan sensori baik

Kriteria :

  • Bayi berespon terhadap stimulus
  1. Membelai bayi sebelum malakukan tindakan
  2. Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut
  3. Memberikan rangsang cahaya pada mata
  4. Kurangi suara monitor jika memungkinkan
  5. Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot
11. Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan orang tua dan kondisi krisis. Cemas berkurang Kriteria hasil :

  • Orang tua tampak tenang
  • Orang tua tidak bertanya-tanya lagi.
  • Orang tua brpartisipasi dalam proses perawatan.
  1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua
  2. Beri penjelasan tentang keadaan bayinya.
  3. Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya.
  4. Berikan support dan reinforcement atas apa yang dapat dicapai oleh orang tua.
  5. Latih orang tua tentang cara-cara perawatan bayi dirumah sebelum bayi pulang.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A.H Markum. (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
  2. Persis Mary Hamilton. (1999). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 2. Jakarta: EGC.
  3. Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.
  4. Friedman, 1998. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
  5. Gaffar, Jumadi. L.O. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC.
  6. Berhman, Kliegman & Arvin. (1996). Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Alih Bahasa : A. Samik Wahab. Jilid 1. Jakarta : EGC.
  7. Garna, Heri.dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke dua.Bandung : FKU Padjadjaran.
  8. Irianto, Kus. Drs. 2004. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya.
  9. Laksman, Hendra, T. Dr. 2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambaran.

10.  Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta : EGC.

11.  Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.

12.  Prawirohardjo, Sarwono, DR. dr. SpOG 2005, ILMU KEBIDANAN. Jakarta YBP-SP

13.  Shelov, Steven P dan Hannemann, Robert E. 2004. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. The American Academy Of Pediatrics.Jakarta : ARCAN.

14.  Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2002. Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta : FKUI.

15.  Supartini, Yupi, S.Kep, MSc. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

16.  Tambayong, Jan. Dr. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

17.  http://www.Medicine and linux.com

18.  www. Pediatric.com

ASKEP

ASKEP DHF

I.    Pengertian
DHF (Dengue Haemoragic fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina). (Christantie Effendy, 1995).
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria.

II.    Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.
Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-III, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 – 1954.
Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 700 C. Dengue merupakan serotipe yang paling banyak beredar.

III.    Tanda Dan Gejala
Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam; ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, petekial dan biasanya mucul dulu pada bagian bawah badan – pada beberapa pasien, ia menyebar hingga menyelimuti hampir seluruh tubuh. Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk.
Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke Dokter apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut.
Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh hingga pasien dianggap afebril.
Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 – 15 hari orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini :
1.    Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
2.    Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 – 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
3.    Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur dsb.
4.    Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.
Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga menderita Penyakit Demam Berdarah dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok / kematian.
Penyebab demam berdarah menunjukkan demam yang lebih tinggi, pendarahan, trombositopenia dan hemokonsentrasi. Sejumlah kasus kecil bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian tinggi.
Masa tunas / inkubasi selama 3 – 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai berikut :
1.    Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 – 40 derajat Celsius).
2.    Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
3.    Adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva), Mimisan (Epitaksis), Buang air besar dengan kotoran (Peaces) berupa lendir bercampur darah (Melena), dan lain-lainnya.
4.    Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
5.    Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
6.    Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 – 7 terjadi penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (Trombositopeni), terjadi peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (Hemokonsentrasi).
7.    Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala.
8.    Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9.    Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada persendian.
10.    Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah

IV.    Patofisiologi
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler.
Hal pertama yang terjadi stelah virus masuk ke dalam tubuh adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok).
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.

V.    Gambaran Klinis
Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi anatara 13 – 15 hari, tetapi rata-rata 5 – 8 hari. Gejala klinik timbul secara mendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang-kadang muntah dan batuk ringan. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supra orbital dan retroorbital. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan, lakrimasi, fotofobia, otot-otot sekitar mata terasa pegal.
Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (6 – 12 jam sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di muka dan dada yang berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh pasien.
Ruam berikutnya mulai antara hari 3 – 6, mula – mula berbentuk makula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki, kemudian menjalar ke seluruh tubuh.
Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat menghilang, bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasien mula-mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.
Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura, ekimosis, hematemesis, epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin lemah, ujung jari, telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

VI.    Diagnosis
Patokan WHO (1986) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai berikut :
a.    Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari kemudian turun secara lisis demam disertai gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, lemah, nyeri.
b.    Manifestasi perdarahan :
1)    Uji tourniquet positif
2)    Petekia, purpura, ekimosis
3)    Epistaksis, perdarahan gusi
4)    Hematemesis, melena.
c.    Pembesaran hati yang nyeri tekan, tanpa ikterus.
d.    Dengan atau tanpa renjatan.
Renjatan biasanya terjadi pada saat demam turun (hari ke-3 dan hari ke-7 sakit ). Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis buruk.
e.    Kenaikan nilai Hematokrit / Hemokonsentrasi

VII.    Klasifikasi
DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1986) :
1.    Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, uji tourniquet , trombositopenia dan hemokonsentrasi.
2.    Derajat II
Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain.
3.    Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan daerah rendah (hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan).
4.    Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

VIII.    Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium
Terjadi trombositopenia (100.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih dibandingkan nila hematokrit pada masa konvalesen.
Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DHF dengan tepat.
Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan titik terendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia timbul karena berkurangnya limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali.

IX.    Diagnosa Banding
Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti :
1.    Demam chiku nguya.
Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas 400C disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot.
2.    Demam tyfoid
Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif, adanya leukopenia, limfositosis relatif.
3.    Anemia aplastik
Penderita tampak anemis, timbul juga perdarahan pada stadium lanjut, demam timbul karena infeksi sekunder, pemeriksaan darah tepi menunjukkan pansitopenia.
4.    Purpura trombositopenia idiopati (ITP)
Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh, demam lebih cepat menghilang, tidak terjadi hemokonsentrasi.

X.    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
1.    Tirah baring atau istirahat baring.
2.    Diet makan lunak.
3.    Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.
4.    Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan.
5.    Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6.    Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
7.    Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.
8.    Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
9.    Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
10.    Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
11.    Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.
Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB.
Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.
Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok.
Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
1.    Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi.
2.    Hematokrit yang cenderung mengikat.

XI.    Pencegahan
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
1)    Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF.
2)    Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan.
3)    Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
4)    Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi.
Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :
1)    Menggunakan insektisida.
Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
2)    Tanpa insektisida
Caranya adalah :
a)    Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari).
b)    Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
c)    Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

XII.    Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Dalam asuhan keperawatan digunakan pendekatan proses keperawatan sebagai cara untuk mengatasi masalah klien.
Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu : pengkajian keperawatan, identifikasi, analisa masalah (diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi).
A.    Pengkajian Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara, pemeriksaan (fisik, laboratorium, rontgen), observasi, konsultasi.
a.    Data subyektif
Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF, data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy, 1995 yaitu :
1.    Lemah.
2.    Panas atau demam.
3.    Sakit kepala.
4.    Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.
5.    Nyeri ulu hati.
6.    Nyeri pada otot dan sendi.
7.    Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
8.    Konstipasi (sembelit).
b.    Data obyektif :
Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain :
1.    Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
2.    Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
3.    Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis, ekimosis, hematoma, hematemesis, melena.
4.    Hiperemia pada tenggorokan.
5.    Nyeri tekan pada epigastrik.
6.    Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
7.    Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.
Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :
1.    Ig G dengue positif.
2.    Trombositopenia.
3.    Hemoglobin meningkat > 20 %.
4.    Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
5.    Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia.
Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia, peningkatan limfosit, monosit, dan basofil
1.    SGOT/SGPT mungkin meningkat.
2.    Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
3.    Waktu perdarahan memanjang.
4.    Asidosis metabolik.
5.    Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.

B.    Diagnosa Keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF menurut Christiante Effendy, 1995 yaitu :
a.    Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
b.    Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
c.    Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
d.    Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
e.    Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
f.    Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.
g.    Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus).
h.    Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.
i.    Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.

C.    Perencanaan Keperawatan
a.    Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
Tujuan :
Suhu tubuh normal (36 – 370C).
Pasien bebas dari demam.
Intervensi :
1)    Kaji saat timbulnya demam.
Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
2)    Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam.
Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
3)    Anjurkan pasien untuk banyak minum  2,5 liter/24 jam.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
4)    Berikan kompres hangat.
Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh.
5)    Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.
Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh.
6)    Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.
Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi.
b.    Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
Tujuan :
Rasa nyaman pasien terpenuhi.
Nyeri berkurang atau hilang.
Intervensi :
1)    Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien
Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.
2)    Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri
3)    Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.
Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami.
4)    Berikan obat-obat analgetik
Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.
c.    Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan.
Intervensi :
1)    Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.
Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.
2)    Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.
Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien.
3)    Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.
Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan .
4)    Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
Rasional : Untuk menghindari mual.
5)    Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.
6)    Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.
Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.
7)    Ukur berat badan pasien setiap minggu.
Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien
d.    Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
Tujuan : Volume cairan terpenuhi.
Intervensi :
1)    Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital.
Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya.
2)    Observasi tanda-tanda syock.
Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok.
3)    Berikan cairan intravena sesuai program dokter
Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah.
4)    Anjurkan pasien untuk banyak minum.
Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh.
5)    Catat intake dan output.
Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan.
e.    Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Tujuan :
Pasien mampu mandiri setelah bebas demam.
Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi
Intervensi :
1)    Kaji keluhan pasien.
Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.
2)    Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
3)    Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien.
Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat.
4)    Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien.
Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
f.    Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh
Tujuan :
Tidak terjadi syok hipovolemik.
Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Keadaan umum baik.
Intervensi :
1)    Monitor keadaan umum pasien
Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani.
2)    Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.
Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik.
3)    Monitor tanda perdarahan.
Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik.
4)    Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
5)    Berikan transfusi sesuai program dokter.
Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang.
6)    Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik.
Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin.
g.    Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus).
Tujuan :  Tidak terjadi infeksi pada pasien.
Intervensi :
1)    Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus.
Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi.
2)    Observasi tanda-tanda vital.
Rasional : Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital.
3)    Observasi daerah pemasangan infus.
Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.
4)    Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis.
Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut.
h.    Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan :
Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
Jumlah trombosit meningkat.
Intervensi :
1)    Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.
2)    Anjurkan pasien untuk banyak istirahat
Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan.
3)    Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut.
Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin.
4)    Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya.
Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan.
i.    Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.
Tujuan : Kecemasan berkurang.
Intervensi :
1)    Kaji rasa cemas yang dialami pasien.
Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien.
2)    Jalin hubungan saling percaya dengan pasien.
Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat.
3)    Tunjukkan sifat empati
Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik.
4)    Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Meringankan beban pikiran pasien.
5)    Gunakan komunikasi terapeutik
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasil yang efektif.
D.    Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien anak dengan DHF disesuaikan dengan intervensi yang telah direncanakan.
E.    Evaluasi Keperawatan.
Hasil asuhan keperawatan pada klien anak dengan DHF sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau perubahan yang terjadi pada pasien.

Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam berdarah dengue sebagai berikut :
1)    Suhu tubuh pasien normal (36- 370C), pasien bebas dari demam.
2)    Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
3)    Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan.
4)    Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien terpenuhi.
5)    Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.
6)    Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik dengan tanda vital dalam batas normal.
7)    Infeksi tidak terjadi.
8)    Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.
9)    Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari perawat tentang proses penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA
Sunaryo, Soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak, UI ; Jakarta.
Effendy, Christantie, (1995), Perawatan Pasien DHF, EGC ; Jakarta.
Hendarwanto, (1996), Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, FKUI ; Jakarta.
Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, EGC ; Jakarta.
http://www.wikipedia.com : Demam Berdarah

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.